Allah menurunkan ilmu zahir untuk membaguskan amal, dan Allah menurunkan ilmu batin untuk mensucikan hati.
MINTA KEBENARAN ADMIN SEBELUM MENYALIN RISALAH KAMI.
JANGAN DISEBARKAN KEPADA ORANG AWAM.

Selasa, 13 Mac 2012

MAKRIFATULLAH


Jika sebuah robot yang mempunyai kemampuan proses logika berpikir yang sangat baik kemudian kita masukkan perintah untuk mengucapkan syahadat dan kemudian kita masukkan  perintah untuk  melakukan gerakan dan bacaan sholat berdasarkan hadits-hadits yang shohih serta dimasukkan data waktu sholat wajib maka tentu robot tersebut dapat mengucapkan syahadat dan menjalankan sholat lima waktu termasuk bacaannya.
Lalu apa yang tidak ada pada robot yang berakal (berpikir) tersebut dengan manusia yang menjalankan sholat lima waktu ?
Robot tersebut dapat mencontoh perbuatan jasmani manusia namun robot tidak mempunyai ruhani.
Diri manusia terdiri dari jasmani dan ruhani.
Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh dan rupa kalian, akan tetapi Allah melihat kepada hati kalian.”  (HR Muslim)
Ketika sesorang menjalankan sholat, secara dzahir kita dapat melihat adanya gerakan badan (jasmani)  namun Allah Azza wa Jalla akan melihat hati (ruhani) manusia adakah mereka lalai dalam sholat.  Apakah mereka mencapai apa yang dikatakan oleh Rasulullah bahwa “Ash-shalatul Mi’rajul Mu’minin“, “sholat itu adalah mi’rajnya orang-orang mukmin“.
Mi’raj manusia, naiknya jiwa (ruhani) meninggalkan ikatan nafsu yang terdapat dalam fisik (jasmani) manusia menuju ke hadirat Allah ta’ala.
Dalam sebuah hadist Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. bersabda: “Sesungguhnya kalian apabila sholat maka sesungguhnya ia sedang bermunajat (bertemu) dengan Tuhannya, maka hendaknya ia mengerti bagaimana bermunajat (bertemu) dengan Tuhan
Allah ta’ala berfirman yang artinya,
Sesungguhnya sholat itu memang berat kecuali bagi mereka yang khusyu’ yaitu mereka yang yakin akan berjumpa dengan Tuhan mereka, dan sesungguhnya mereka akan kembali kepadaNya”. (QS. Al-Baqarah 2 : 45).
… maka sembahlah Aku dan dirikanlah sholat untuk mengingat Aku.”  (QS  Thaha 20: 14)
waladzikrulaahi akbaru
Sholat adalah dzikrullah (mengingat Allah)  yang utama” (Al Ankabut [29]: 45)
Jadi dapat kita simpulkan bahwa mi’raj (kendaraan/cara) kaum muslimin untuk sampai ke hadirat Allah Azza wa Jalla  adalah dengan dzikrullah dan yang lebih utama adalah dengan sholat.
Dzikrullah (mengingat Allah) adalah yang membawa kita bertemu dengan Allah Azza wa Jalla sehingga kita dapat memandang Allah Azza wa Jalla dengan hati .
Rasulullah bersabda,  “Kamu menyembah Allah seolah-olah melihat-Nya dan bila kamu tidak melihat-Nya sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR Muslim)
Seolah-olah melihat Allah” dijelaskan dalam riwayat berikut.
Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani, 
“Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”
Beliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”“Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali. Sayyidina Ali ra menjawab, “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati dengan hakikat keimanan …”.
 
Sayyidina Ali r.a adalah khataman Khulafaur Rasyidin yang menguraikan secara lengkap tentang Ihsan atau  tentang akhlak  sebagai dasar Tasawuf dalam Islam.
Oleh karena fitnah orang Zionis Yahudi, mengakibatkan sebagian umat muslim tidak memperhatikan tentang Ihsan / tentang Akhlak atau tentang Tasawuf dalam Islam karena takut dikatakan sebagai kaum Syiah.
Selain fitnah tersebut,  akibat pencitraan yang buruk terhadap Tasawuf berakibat makin sedikit saudara muslim kita yang dapat berma’rifat , memandang Allah ta’ala dengan hati.
Begitu juga semakin sedikit saudara-saudara muslim kita yang selalu yakin bahwa Allah Azza wa Jalla melihat segala sikap dan perbuatan kita.
Kalau kita belum dapat berma’rifat atau memandang Allah Azza wa Jalla dengan hati atau hakikat keimanan, minimal meyakini bahwa Allah Azza wa Jalla melihat segala sikap dan perbuatan kita,
Kalau kita meyakini bahwa Allah Azza wa Jalla melihat segala sikap dan perbuatan kita,
Masihkah berani berakhlak buruk ?,
Masihkah berani bersikap buruk ?,
Masihkah berani melakukan perbuatan yang melanggar laranganNya?
Masihkah berani melalaikan kewajibanNya ?
Masihkah berani menghujat , memperolok-olok sesama saudara muslim sendiri ?
Kaum Zionis Yahudi memang telah dianugerahkan kepandaian.
Mereka tahu bahwa muslim yang terbaik (ihsan) adalah muslim yang berakhlakul karimah.
Oleh karenanya mereka berupaya merusak kaum muslim dengan merusak akhlak.
Mereka merusak akhlak kaum muslim melalui,
Paham Hedonisme yang menuhankan kesenangan
Paham Liberalism yang menuhankan kebebasan
Pornografi
Narkoba dan Miras
Gaya hidup mewah atau gaya hidup bebas dan lain-lain
Termasuk mereka merusak melalui pengetahuan tentang akhlak atau tentang Tasawuf dalam Islam dengan cara mencitrakan hal yang buruk terhadap Tasawuf.
Pencitraan yang buruk terhadap Tasawuf termakan pula oleh para pengikut ulama Muhammad bin Abdul Wahhab. Mereka menyusun kurikulum pendidikan bekerjasama dengan Amerika yang dibaliknya adalah Zionis Yahudi.
Abuya Prof. DR. Assayyid Muhammad bin Alwi Almaliki Alhasani menyampaikan dalam makalahnya bahwa dalam kurikulum tauhid kelas tiga Tsanawiyah (SLTP) cetakan tahun 1424 Hijriyyah di Arab Saudi berisi klaim dan pernyataan bahwa kelompok Sufiyyah (aliran–aliran tasawuf) adalah syirik dan keluar dari agama. 

Tiada ulasan:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...